Kumpulan Puisi Chairil Anwar Edisi Deru Tjampur Debu (Original) Part 1
—
Jumat, 26 Februari 2016
—
Add Comment
—
Puisi
Cetakan ke-delapan tahun 1966 - cetakan ini diterbitkan dalam bentuk yang sama dengan cetakan ketujuh. beberapa kesalahan cetak telah diperbaiki
Note: Puisi ini tidak ada saya rubah sedikitpun, dari penulisan kata-katanya maupun isinya. puisi yang saya kumpulukan ini merupakan isi cetakan original.
Daftar Puisi:
Penyair: Chairil Anwar
============================================================
mengutjur darah
mengutjur darah
rubuh
patah
mendapampar tanja : aku salah ?
kulihat Tubuh mengutjur darah
aku berkatja dalam darah
terbajang terang dimata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
itu Tubuh
mengutjur darah
mengutjur darah
===========================================================
Note: Puisi ini tidak ada saya rubah sedikitpun, dari penulisan kata-katanya maupun isinya. puisi yang saya kumpulukan ini merupakan isi cetakan original.
Daftar Puisi:
Penyair: Chairil Anwar
============================================================
- A K U
Kalau sampai waktuku
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang djalang
Dari kumpulannja terbang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerdjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
============================================================
'Ku mau tak seorang 'kan meraju
Tidak djuga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang djalang
Dari kumpulannja terbang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerdjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
============================================================
- H a m p a
Kepada Sri
Sepi diluar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai kepuntjak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti, Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti djadi mentjekik
Memberat-mentjengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
============================================================
- Selamat Tinggal
Aku berkatja
Ini muka penuh luka
Siapa punja?
Kudengar seru menderu
--- dalam hatiku ? ---
Apa Hanja angin lalu ?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah..............??
Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal .....................!!
Selamat Tinggal .........................!!
===========================================================
- Orang Berdua
Kamar ini djadi sarang penghabisan
dimalam jang hilang batas.
Aku dan dia hanja mendjengkau
rakit hitam
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran pitam ?
Matamu ungu membatu.
Masih berdekapankah kami atau
mengikut djuga bajangan itu ?
===========================================================
- Sia-sia
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karanga kembang
Mawar merah dan melati putih :
dara dan sutju.
Kau tebarkan depanku
serta pandang jang memastikan : Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling Bertanja : Apakah ini ?
Tjinta ? Keduanja tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah ! Haktiku jang tak mau memberi
Mampus kau dikojak-kojak sepi.
===========================================================
- D o a
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menjebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
tjajaMu panas sutji
tinggal kerdip lilin dikelam sunji
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
Aku mengembara dinegeri asing
Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
===========================================================
- I s a
kepada nasrani sedjatiItu Tubuh
mengutjur darah
mengutjur darah
rubuh
patah
mendapampar tanja : aku salah ?
kulihat Tubuh mengutjur darah
aku berkatja dalam darah
terbajang terang dimata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
itu Tubuh
mengutjur darah
mengutjur darah
===========================================================
- Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menjerahkandiri dan segala dosa
Tapi djangan tentang lagi aku
Nanti darahku djadi beku
Djangan lagi bertjerita
Sudah terjatjar semua dimuka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berdjalan kau usap djuga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
menetes dari suasana kan datang
Sembarangan kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku dibumi keras
Dibibirku terasa pedas
Mengaum ditelingaku.
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menjerahkandiri dan segala dosa
Tapi djangan tentang lagi aku
Nanti darahku djadi beku
===========================================================
- Kesabaran
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, andjing ngonggong
Dunia djauh menghabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Disebelahnja api dan abu
Aku hendak bitjara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah ! tidak djadi apa-apa !
ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi jang dulu kembali
sambil bertutup telinga, berpitjing mata
menunggu reda jang mesti tiba
===========================================================
- Sadjak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra sendja
Dihitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menjanji, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam djiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah..........
===========================================================
kau depanku bertudung sutra sendja
Dihitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menjanji, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam djiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah..........
===========================================================
- Kawanku dan Aku
kami sama pedjalan larut
Menembus kabut
Hudjan mengutjur badan
Berkakuan kapal-kapal dipelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata ............ ?
Kawanku hnja rangka sadjaKarena dera mengelutjak tenaga
Dia bertanja djam berapa ?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punja arti.
===========================================================
- Kepada Kawan
Sebelum adjal mendekat dan mengehianat,
mentjengkam dari belakang 'tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas ketjewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
lajar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini disini :
Adjal jang menarik kita, djuga mentjekik diri sendiri !
Djadi
Isi gelas sepenuhja lantas kosongkan,
Tembus djaladjah dunia ini dan balikkan
Peluk kutjup perempuan, tinggalkan kalau meraju,
pilih kuda jang paling liar, patju ladju,
Djangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hantjurkan lagi apa jang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat,
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa sadja !
Djadi
mari kita putuskan sekali lagi :
Adjal jang menarik kita, 'kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi :
Tikamkan pedangmu hingga kehulu
Pada siapa jang mengairi kemurnian madu ! ! !
===========================================================
- Sebuah Kamar
Sebuah djendela menjerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan jang menjinar kedalam
mau lebih banjak tahu.
"Sudah lima anak bernjawa disini,
Aku salah satu !"
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian pendjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring djemu
Matanja menatap orang tersalib dibatu !
Sekeliling dunia bunuh diri !
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada diluar hitungan : Kamar begini,
3 X 4 m, terlalu sempit buat meniup njawa !
===========================================================
- Lagu Siul
Laron pada mati
Terbakar disumbu lampu
Aku djuga menemu
Adjal ditjerlang tjaja matamu
Heran ! ini badan jang selama berdjaga
Habis Hangus diapi matamu
'Ku kajak tidak tahu sadja.
Aku kira Beginilah nanti djadinja :
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedangkan aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta,
Tak satu djuga pintu terbuka.
Djadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa,
Aku terpanggang tinggal rangka
===========================================================


0 Response to "Kumpulan Puisi Chairil Anwar Edisi Deru Tjampur Debu (Original) Part 1"